-->

Type something and hit enter


By On
advertise here


Bali | Disela-sela acara donor darah di Kampus Politeknik Negeri Bali, pada Jumat (3/9/2021),  salah satu pengurus PD PDDI (Pengurus Daerah Perhimpunan Donor Darah Indonesia) Bali, I Gede Sudarta, yang juga sebagai salah satu pendonor darah sebanyak 100 kali, sekaligus penggerak donor darah di Politeknik Negeri Bali menyatakan bahwa, dirinya sebagai generasi ke-2 Penerima Satya Lencana Presiden Republik Indonesia, Donor Darah Sukarela (DDS) 100 kali. 

Secara pribadi, Gede Sudarta mengungkapkan,  dirinya mengawali berdonor darah, sejak masa mahasiswa, pada tahun 1989 dan sekarang sudah berdonor darah yang ke-125 kali, pada tanggal 6 Juli 2021.

"Pada awalnya, donor darah di kampus, sudah itu, rutin ikut serta donor darah, karena, pada saat itu, informasi donor darah itu, sangat sulit didapatkan, sehingga saya ikut donor darah keliling. Jadi, bulan Januari, saya donor di almamaternya, SMAN 3 Denpasar. Terus, bulan Juli sering donor di ISI Denpasar dan kadang-kadang, yang lainnya di Rumah Sakit Unit Transfusi Darah," kata Gede Sudarta.


Setelah  dirinya menjadi staf di kampus Politeknik Negeri Bali, Gede Sudarta   mengkoordinir kegiatan donor darah ini, yang diagendakan secara rutin, karena, dulunya,  donor darah digelar, saat HUT (Hari Ulang Tahun), sekitar bulan September atau Oktober.

"Nah, setelah saya disini, yang dirintis tahun 2003, saya merayu kawan-kawan dosen, staf dan mahasiswa, agar secara rutin, mengikuti donor darah. Terus, yang rutin ikuti donor darah itu, sekarang telah 55 kali berdonor, yang salah satunya, dosen di Jurusan Pariwisata dan ada beberapa pegawai yang telah berdonor 35 kali. Sedangkan, mahasiswa selalu berganti 3-4 tahun telah tamat, kami targetkan anak-anak Poltek, biar bisa tamat dari kampus mendapatkan piagam donor 10 kali dari PMI," jelas Gede Sudarta.

Selanjutnya, Gede Sudarta merasa bersyukur, ada dua orang alumninya sudah mendapatkannya, yang ternyata, rutin mengikuti acara donor darah, saat berada di kampus Politeknik Negeri Bali. 

Bahkan, Gede Sudarta mengungkapkan, pada masa pandemi Covid-19, pihaknya melaksanakan kegiatan donor darah yang ketiga kalinya. Sebelum masa pandemi, pihaknya rutin melakukan acara donor darah, sebanyak 5 kali setahun, bertempat di Kampus Politeknik Negeri Bali.

Konsepnya, PDDI Bali  bersinergi dengan kampus Politeknik Negeri Bali berkeinginan menggaet pendonor darah generasi milenial di kampusnya, yang selalu tercapai, pada setiap kegiatan donor darah, yang hampir 40 persen adalah pendonor muda atau generasi milenial dan hingga kini, banyak alumninya telah mengikuti kegiatan donor darah, secara rutin.  

"Saya sebagai pengurus PDDI Bali juga sering mendampingi kegiatan donor darah di tempat-tempat kerja dan sangat bersyukur anak-anak muda melanjutkan donor darahnya di tempat kerjanya, karena, donor bagi saya itu, sudah merupakan kebiasaan. Kalau saya bulan kedua sudah terasa. Jadi, karena sering menjadi donor panggilan Simatupang (Siang MalamTunggu Panggilan). Jadi, Voluntir untuk donor 450 CC, setelah itu, donor apheresis telah dapat 25 kali, yang diambil trombositnya saja dan belum pernah donor TPK (Terapi Plasma Konvalesen," ujar Gede Sudarta.

Kemudian, Gede Sudarta mengajak anak muda milenial, untuk merintis berdonor darah, karena donor darah itu, penderma yang paling suci, karena, darah tidak ada imitasinya.

Gede Sudarta juga memaparkan, secara ekonomis, orang berdonor darah mendapatkan banyak keuntungan, secara tidak langsung. Disebutkan, kalau berdonor darah, jika belum punya golongan darah, bisa dipakai sarana mengecek golongan darah, yang sekarang  biayanya sebesar 50 Ribu Rupiah. "Jadi, dapat keuntungan 50 Ribu Rupiah," terangnya.

Jika lolos donor darah, lanjut Gede Sudarta, darahnya setelah tiba di lab, dilakukan pengecekan terlebih dahulu. "Jika di lab biasa dikenai 800 Ribu Rupiah, untuk hepatitis dan raja singa sedangkan pemeriksaan HIV itu, 1 Juta Rupiah lebih. Secara ekonomis, sebenarnya sudah mendapatkan keuntungan disana. Jika terkontaminasi darahnya, Anda akan diberitahukan kembali. Itu jelas keuntungan bagi kita, jika ikut serta berdonor darah. Jadi, prinsip saya, donor darah menjadi kebutuhannya dan saya sekeluarga sudah menularkan kepada anak-anak saya sendiri, walaupun, menunggu 2 tahun baru lolos, dilihat Hb dan tensinya, karena, pola hidupnya sering begadang, sehingga secara tidak langsung bisa mendidik anak, agar hidup pola sehat melalui donor darah," pungkas Gede Sudarta. (ace).

Click to comment