Media DNN - Bali | Bupati Bangli, Sang Nyoman Sedana Arta bersama Ny. Sariasih Sedana Arta hadiri persembahyangan serangkaian Hari Raya Siwa Ratri di Pura Kehen, Sabtu (17/1).
Persembahyangan ini, dihadiri oleh Wakil Bupati Bangli, I Wayan Diar bersama Ny. Suciati Diar, Ketua DPRD Kabupaten Bangli, Sekda Bangli, unsur Forkopimda Kabupaten Bangli Serta Pimpinan Perangkat Daerah Kabupaten Bangli. Adapun tujuan dari acara ini yakni untuk memohon keselamatan dan kerahayuan bagi masyarakat Bangli.
Di sela prosesi persembahyangan, Ketua PHDI Kabupaten Bangli I Nyoman Sukra menyampaikan makna dan filosofi Siwa Ratri yang sering disebut sebagai "Malam Penebusan Dosa". Namun, secara mendalam, Siwa Ratri dijelaskan sebagai momentum "Jagra" atau kesadaran diri.
"Siwa Ratri bukanlah sekadar begadang semalam suntuk, melainkan upaya manusia untuk melepaskan kegelapan pikiran (Avidya) menuju terang pengetahuan. Ini adalah waktu bagi kita untuk melakukan mulat sarira atau introspeksi total atas segala perbuatan yang telah dilakukan," ungkap Nyoman Sukra.
Sementara, Bupati Sedana Arta juga mengungkapkan bahwa semangat Siwa Ratri dapat membawa kejernihan pikiran dalam membangun Bangli ke arah yang lebih baik.
"Melalui Siwa Ratri, kita dapat meningkatkan kesadaran diri dan memperkuat hubungan dengan Tuhan. Mari kita jadikan momentum ini untuk memperbaiki diri dan membangun Bangli yang lebih baik", ujarnya.
Lebih lanjut, Bupati Sedana Arta juga menekankan pentingnya introspeksi diri dan pengendalian diri dari hawa nafsu keduniawian. "Mari kita jadikan Siwa Ratri sebagai kesempatan untuk memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas hidup kita," tambahnya.
Untuk diketahui bahwa, Tri Brata utama dalam Siwa Ratri, yakni Upawasa (tidak makan/minum), Monabrata (tidak berbicara), dan Jagra (tidak tidur), dimaknai sebagai simbol pengendalian diri dari hawa nafsu keduniawian demi mendekatkan diri kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasi-Nya sebagai Dewa Siwa.Pungkasnya.(hms/dw).

