Media DNN - Bali | Peringatan Hari Desa Nasional di Kabupaten Buleleng tahun 2026 diwarnai dengan serangkaian kegiatan yang tersebar di seluruh desa. Salah satunya kegiatan donor darah yang digelar di Gedung Wanita Laksmi Graha Singaraja, Kamis (15/1).
Wakil Bupati (Wabup) Buleleng, Gede Supriatna, dalam momentum ini menyatakan komitmen Pemerintah Kabupaten (Pemkab) untuk menggeser arah pembangunan desa ke arah pemberdayaan masyarakat yang lebih masif. Khususnya di bidang ekonomi setelah lebih dari satu dekade fokus pada infrastruktur.
Kegiatan donor darah yang melibatkan perwakilan desa/kelurahan dan difasilitasi oleh Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Buleleng tersebut menjadi salah satu bentuk partisipasi sosial dalam memaknai Hari Desa Nasional. Namun, inti peringatan tahun ini justru terletak pada desentralisasi kegiatan dan pesan pembangunan yang disampaikan oleh Wabup Supriatna.
Gede Supriatna menjelaskan bahwa Pemkab Buleleng sengaja tidak memusatkan peringatan di satu lokasi. Sebaliknya, bentuk dan ragam kegiatan diserahkan sepenuhnya kepada masing-masing desa yang dikoordinasi oleh Perbekel (Kepala Desa). “Kegiatan ini kita tidak jadikan di satu tempat tetapi tersebar di seluruh desa yang ada di Kabupaten Buleleng. Bentuk kegiatannya diserahkan pada masing-masing desa yang difokuskan oleh Perbekel di desa-desa,” jelasnya saat ditemui usai kegiatan.
Selain donor darah, berbagai aktivitas seperti penanaman pohon dan kerja bakti sosial lain juga digelar di berbagai penjuru wilayah sebagai wujud kepedulian dan gotong royong.
Di balik ragam kegiatan tersebut, mantan Ketua DPRD Buleleng ini menyoroti filosofi pembangunan desa ke depan. Ia mengatakan bahwa pembangunan di Buleleng selama ini sangat bertumpu pada penguatan di tingkat desa. Meski dinilai telah berjalan dengan baik, ia menekankan perlunya peningkatan dan penajaman arah. “Walaupun selama ini sudah berjalan bagus, tapi perlu juga lebih ditingkatkan khususnya dari sisi pemberdayaan masyarakat,” kata Supriatna.
Wabup Supriatna kemudian memaparkan visi pergeseran fokus pembangunan. Menurutnya, setelah periode 10-15 tahun bergerak intensif di sektor infrastruktur seperti jalan, jembatan, dan fasilitas publik dasar, kini saatnya untuk menggenjot pemberdayaan ekonomi masyarakat. “Sudah saatnya kita memulai lagi menggerakkan lebih masif terkait dengan pemberdayaan masyarakat dari sisi ekonomi,” ungkapnya. Pernyataan ini mengisyaratkan arah kebijakan ke depan yang akan lebih menitikberatkan pada penguatan kapasitas ekonomi warga, kewirausahaan, pengolahan potensi lokal, dan penciptaan lapangan kerja mandiri di tingkat desa.
Komitmen ini diharapkan dapat mengakselerasi kemandirian desa dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat dari hulu. Dengan demikian, peringatan Hari Desa Nasional 2026 di Buleleng tidak hanya sekadar seremonial, tetapi juga menjadi penanda dimulainya babak baru pembangunan desa yang lebih berorientasi pada pemberdayaan manusia dan penguatan ekonomi kerakyatan yang berkelanjutan. (dra/red)

