Media DNN - Bali | Di Desa Tua Marga, Kabupaten Tabanan, Bali, sebuah pohon kayu putih raksasa yang dipercaya berusia sekitar 700 tahun menjadi pusat perhatian wisatawan. Di bawah rindangnya pohon ini, tidak ada tiket masuk yang ditetapkan. (01/4)
Wisatawan cukup memberikan donasi secara sukarela—sebuah praktik unik yang mencerminkan nilai kepercayaan, kearifan lokal, dan harmoni antara manusia, alam, dan spiritualitas.
Fenomena ini menjadi daya tarik tersendiri, terutama bagi wisatawan mancanegara.
Bahkan, menurut pengelola daya tarik wisata kayu putih, Bapak I Made Kurna, mengatakan bahwa "jumlah kunjungan wisatawan mencapai sekitar 70 hingga 100 orang per hari. Tidak hanya mengandalkan pohon kayu putih, Desa Tua juga mengembangkan berbagai potensi wisata lainnya, seperti kolam renang alami dari mata air tanpa bahan kimia, restoran dan warung lokal, rencana pengembangan air terjun, hingga inovasi wisata jeep tour dan potensi produk cokelat sebagai bagian dari ekonomi kreatif desa.
Namun, di balik potensi tersebut, masih terdapat tantangan dalam pengelolaan wisata, promosi digital, serta penguatan kelembagaan masyarakat". Kata I Made Kurna,
Melalui program pengabdian kepada masyarakat, tim dosen dan mahasiswa Fakultas Pariwisata Universitas Udayana bersama mahasiswa KKN hadir untuk menjawab tantangan tersebut. Kegiatan ini dipimpin oleh Dr. I Nyoman Sudiarta, SE., M.Par., Ketua Tim Pengabdian sekaligus Ketua Grup Riset Pemasaran Pariwisata Berkelanjutan.
Desa Tua kini diarahkan sebagai desa binaan dengan pendekatan pentahelix, yang melibatkan perguruan tinggi, pemerintah, masyarakat, pelaku usaha (termasuk PHRI Tabanan), komunitas peduli lingkungan, serta sektor swasta.
Implementasi Nyata SDGs (Sustainable Development Goals) di Desa Wisata.
Dijelaskan oleh Dr. I Nyoman Sudiarta, SE., M.Par. bahwa "Program pengabdian ini tidak hanya berorientasi pada pengembangan wisata, tetapi juga merupakan bentuk implementasi nyata dari Sustainable Development Goals (SDGs) dalam konteks desa wisata.
Beberapa tujuan SDGs yang diimplementasikan secara langsung di Desa Tua antara lain:
SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi):
Pengembangan warung lokal, restoran, serta aktivitas wisata seperti jeep tour dan produk cokelat memberikan peluang ekonomi baru bagi masyarakat.
SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab):
Model wisata berbasis donasi serta pengelolaan destinasi yang minim eksploitasi menunjukkan praktik pariwisata yang lebih bertanggung jawab.
SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim):
Pemanfaatan potensi alam secara lestari, seperti kolam alami tanpa bahan kimia, mendukung upaya konservasi lingkungan.
SDG 15 (Ekosistem Daratan):
Pelestarian pohon kayu putih berusia ratusan tahun menjadi simbol perlindungan ekosistem lokal.
SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan):
Kolaborasi pentahelix yang melibatkan perguruan tinggi, pemerintah, komunitas, dan sektor swasta menjadi kunci keberhasilan program ini.
Dengan demikian, Desa Tua tidak hanya berkembang sebagai destinasi wisata, tetapi juga sebagai laboratorium hidup implementasi pembangunan berkelanjutan.
Arah Lanjutan: Regenerative Tourism Berbasis Kolaborasi
Sebagai kelanjutan program, Fakultas Pariwisata Universitas Udayana akan mengembangkan kegiatan pengabdian berbasis regenerative tourism, yang melibatkan wisatawan sebagai bagian dari solusi, bukan hanya sebagai konsumen.
Program ini akan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk komunitas peduli sampah, PHRI Tabanan, Dinas Pariwisata, dan pihak swasta. Wisatawan nantinya tidak hanya menikmati destinasi, tetapi juga terlibat dalam aktivitas seperti edukasi lingkungan dan pelestarian budaya". Jelasnya
Dr. I Nyoman Sudiarta SE., M.Par. menegaskan bahwa pembinaan desa wisata harus memberikan dampak nyata. "Pembinaan desa wisata tidak boleh berhenti pada simbol semata, harus ada dampak nyata bagi masyarakat, baik secara ekonomi, sosial, maupun lingkungan,” tegasnya.
Dr. I Nyoman Sudiarta SE., M.Par. saat bersama Tim Pengabdian Fakultas Pariwisata Universitas Udayana juga mengungkapkan bahwa
Kegiatan KKN mahasiswa Fakultas Pariwisata universitas Udayana juga menghasilkan berbagai luaran, antara lain :
Peta potensi wisata Desa Tua
Informasi edukatif sejarah kayu putih
Peningkatan aksesibilitas wisata
Pembentukan dan penguatan Pokdarwis
Media promosi digital
Kontribusi mahasiswa KKN dalam pengembangan desa
Selain itu, dihasilkan pula luaran akademik seperti modul pelatihan, dokumentasi photovoice, dan rencana publikasi ilmiah.
Desa Tua Marga kini tidak hanya menjadi destinasi wisata, tetapi juga contoh nyata bagaimana pariwisata dapat berkontribusi terhadap pembangunan berkelanjutan.
Di bawah pohon kayu putih yang telah berdiri selama ratusan tahun, masa depan pariwisata regeneratif mulai tumbuh—berbasis masyarakat, berkelanjutan, dan penuh makna." Ungkap Dr. I Nyoman Sudiarta SE., M.Par. yang juga pengurus PHRI Kabupaten Tabanan ini.
Kegiatan menunjukkan bahwa "pendekatan konvensional berbasis eksploitasi destinasi tidak lagi relevan dalam konteks pariwisata masa depan. Dibutuhkan transformasi menuju pariwisata regeneratif, yang tidak hanya menjaga keberlanjutan, tetapi juga memperbaiki sistem sosial, ekonomi, dan lingkungan. Hasil kegiatan pengabdian yang dilakukan oleh tim Fakultas Pariwisata Universitas Udayana menunjukkan bahwa integrasi antara potensi lokal, pemberdayaan masyarakat, dan inovasi digital mampu menghasilkan dampak nyata. Namun demikian, keberlanjutan program memerlukan dukungan kebijakan yang lebih sistematis.
Dalam konteks ini, terdapat tiga rekomendasi strategis:
1. Penguatan Kelembagaan Desa Wisata
Pembentukan dan penguatan Pokdarwis harus didukung dengan regulasi desa serta integrasi dengan kebijakan daerah, sehingga tidak bersifat informal semata.
2. Implementasi Regenerative Tourism Berbasis Partisipasi Wisatawan
Wisatawan perlu dilibatkan sebagai bagian dari solusi, melalui program edukasi lingkungan, pengelolaan sampah, dan pelestarian budaya.
3. Pengembangan Model Kolaborasi Pentahelix
Perlu penguatan sinergi antara:
Perguruan tinggi (riset & pendampingan)
Pemerintah (regulasi & fasilitasi)
Industri (investasi & pasar)
Komunitas (implementasi)
Media (promosi & edukasi)
Pendekatan ini secara langsung mendukung pencapaian SDGs, khususnya pada aspek ekonomi, lingkungan, dan kemitraan.
Dengan demikian, Desa Tua Marga berpotensi menjadi model nasional desa wisata regeneratif, yang dapat direplikasi di berbagai daerah di Indonesia". Tutup Dr. I Nyoman Sudiarta SE., M.Par. (Senin 1/4/2026).(App).

