Media DNN-Bali | Karya Pecaruan, Ngresi Gana, Pemelaspas lan Pujawali Pedudusan Alit digelar di Kekubon I Ketut Suarjana, bertempat di Jalan Taman Pancing, Denpasar, pada Rabu (20/4/2022).
Manggala Karya, I Wayan Kurcana menyebutkan upacara yadnya di Kekubon diempon oleh 40 KK. Sesuai petunjuk Pemuput Karya, Ida Pandita Mpu Yogiswara, tingkatan yadnya termasuk madyaning utama.
Rangkaian upacara yadnya dipuput oleh Ida Pandita Mpu Yogiswara dari Griya Gede Manik Uma Jati, Banjar Jabajati, Pemogan, Denpasar Selatan.
Dalam Darma Wacananya, Ida Pandita Mpu Yogiswara menyebutkan, bahwa Karya Tegak Pujawali Ida Bethara dilakukan sesuai eedan karya yang meliputi beberapa rangkaian upacara diantaranya Ngresi Gana dan Ngaturang Padudusan atau Mandi Suci Adyus-Dyus katurang Ida melinggih. Upacara dilanjutkan dengan mendak Ida Bethara di Pegubengan dan ngaturang Ida Bethara melinggih, dalam bentuk panca lingga.
Rangkaian upacara ini diikuti oleh Sang meduwe karya dan semeton meduwe karya. Sementara, para undangan lainnya turut hadir menyaksikan upacara yadnya tersebut.
Saat itu, upacara yadnya juga kaenter oleh pemangku usai Ida Sulinggih mekarya tirta dan menjalankan upacara pengeresikan.
"Usai mekarya tirta, dilanjutkan dengan upacara mecaru yaitu caru jempong asu dan ngresi gana di parhyangan tugu karang dan lebuh," terangnya.
Disebutkan, upacara dilanjutkan dengan mendem paduraksa di sisi karang, karena, diyakini paduraksa sebagai batas-batas pekarangan rumah, agar vibrasi karya yang dipancarkan memagari karang tersebut. Hal tersebut didasari, jika ada kesalahan saat kejadian di jaba dan berada diluar pekarangan rumah, agar tidak terkena aura negatif yang ditimbulkannya.
"Misalnya ada kejadian tabrakan lalu lintas di depan rumah, tidak dibuatkan upacara pengulapan atau penebusan bisa mempengaruhi efek negatif di batas karang," ungkapnya.
Untuk itulah, lanjutnya, kemudian dipasang atau mendem paduraksa, agar tidak terkena aura negatif yang bersifat asuri sampad guna menghindari masuknya energi negatif kedalam pekarangan rumah, sesuai batas patokan karang.
"Jika ada yadnya seperti ini, patut dibuatkan paduraksa. Usai masang atau mendem paduraksa, upacara dilanjutkan dengan upacara melaspas Ida Bethara berupa Daksina Linggih," jelasnya.
Kemudian, kata Ida Pandita Mpu Yogiswara, Daksina Linggih kemudian dipundut oleh para semeton Sang Meduwe Karya menuju panggungan, yang kaenter oleh Jero Mangku.
"Saat itu, dilakukan ilen-ilen yadnya meliputi mendak pedatengan, yang dilanjutkan Ida Bethara mepurwa daksina di pengubengan dan kemudian Ida Bethara menuju Jeroan atau linggih Ida Bethara," paparnya.
Tambahnya, upacara dilanjutkan dengan prosesi adyus-dyus atau mandi suci dan katurang panca lingga, agar Ida Bethara melinggih ring parhyangan masing-masing.
Kemudian, imbuhnya, digelar upacara matur sisip majeng ring Ida Bethara, dikarenakan, mengubah tegak piodalan nemoning Soma Tolu. Upacara dilanjutkan dengan ngaturang Ida Bethara di masing-masing pelinggih hingga ngaturang pujawali Ida Bethara. Usai membersihkan karang yang disebut sapta petala kalawan sunia loka, kemudian, Sang Meduwe Karya melakukan upacara mebersih yang disebut pewintenan.
"Ketiga alam atau Tri Buana ini disatukan untuk dibersihkan agar seimbang. Di Pertiwi dibersihkan dan juga upacara linggih Ida Bethara juga dibersihkan. Kemudian, Sang Meduwe Karya dibersihkan, dengan ngelungsur nyurud ayu, memohon pasucian untuk membersihkan diri yang disebut pewintenan. Hal ini dinamakan Tri Buana jadi satu," tegasnya.
Usai proses pewintenan, kata Ida Pandita Mpu Yogiswara, barulah semeton Meduwe Karya diperbolehkan mungggah ring pelinggih dan munggahang canang. Sementara itu, pewintenan merupakan media pembersihan angga sarira, agar bisa ngunggahang canang ke masing-masing pelinggih Ida Bethara.
"Upacara dilanjutkan dengan sembahyang bersama hingga nunas tirta Ida Bethara," pungkasnya.
Selain itu, kata Ida Pandita Mpu Yogiswara, juga digelar upacara nutug karya tiga hari atau nganyarin dengan ngaturang soda di masing-masing pelinggih. Usai tiga hari, barulah munggah pejati di masing-masing pelinggih yang dirangkaikan dengan upacara mejejauman alit.
"Usai ngelungsur pasuecan Ida Bethara, Hyang Guru Kawitan yang disucikan sebagai linggih Ida Bethara, dengan menghaturkan ucapan terima kasih agar Ida Bethara mapaica waranugraha, untuk mempererat rasa pasemetonan di kekubon," tutupnya. (ace).

